Minggu, 26 Oktober 2014

Curhatan Gue

Hai... Sudah lama banget ya gue nggak nge-blog. Banyak sih alasan gue, mulai dari lupa email, lupa password, sampai sibuk sekolah. Oh iya, sekarang gue kelas XII SMA. Kalian tau kan gimana sibuknya anak kelas XII? Mikirin tugas, bimbingan belajar, ujian nasional, sampai daftar ke perguruan tinggi. Hmm... dulu gue nggak sabar banget pengen cepet kelas XII dan lulus dari SMA. Eh, setelah tau kenyataannya, gue jadi pengen ngulang SD lagi. Hehe...

Di sela-sela kesibukan gue, gue selalu nyempetin buat nulis cerita gitu. Niatnya sih bikin novel tentang kehidupan asmara gue. Yah... mudah-mudahan aja ada penerbit yang tertarik dan novelnya jadi best-seller ya. Amin... Gue sih baru pemula di dunia menulis. Dulunya coba-coba, eh malah keterusan asyiknya. Tapi yang jadi masalahnya itu, mood gue sering berubah-ubah. Kadang semangat banget buat nulis, tapi kadang juga males sampai-sampai satu halaman pun nggak jadi. Walaupun gitu, gue sering nasehatin diri gue sendiri supaya konsisten dan harus punya kemauan yang tinggi.

Eh iya, di atas tadi gue sudah bilang kan kalau novel gue isinya tentang kehidupan asmara gue? Ceritanya tuh gue suka gitu sama adik kelas, inisialnya R. Eitts... ini bukan cinta pada pandangan pertama lho, prosesnya panjaaaaaang. Jujur, gue nggak percaya sama love at first sight. Karena menurut gue, yang katanya cinta pada pandangan pertama itu nggak ada, yang ada cuma kalian diperbudak nafsu. Cinta yang sesungguhnya itu butuh proses, nggak secepet loe bikin mie instant.

Karena dia gue jadi terinspirasi bikin novel. Gue nggak tau ya kenapa gue bisa suka sama dia. Mungkin ini bukti kalau cinta itu nggak butuh alasan. Gue kenal dia dari sebuah organisasi di sekolah gue. Kita sih sering ketemu, tapi nggak saling mengenal. Mungkin ini karena gue sama dia nggak seangkatan, jadi seperti ada jurang pemisah antara murid kelas XII sama kelas XI. Tapi, seiring berjalannya waktu, Tuhan mendekatkan kami.

Tetapi, selang beberapa bulan, kami jauh lagi hiiiks. Gue merasa kehilangan dia. Di saat itulah gue baru sadar kalau dia berarti di hidup gue, dengan kata lain gue sayang sama dia. Gue nggak tau apa yang ada di pikiran dia. Kadang dia menghubungi gue lewat salah satu media sosial, kami bisa bercanda-canda, gue bisa ngledekin dia dan dia tertawa lepas. Entah itu bener-bener tertawa atau cuma dia bingung mau bales apa.

 Tapi di lain waktu, ketika gue secara nggak sengaja bertemu langsung sama dia, dia cuek dan seolah nggak kenal sama gue. Anehnya, kalau gue ketemu sama dia, gue merasa lemah. Padahal ngadepin guru killer aja gue berani, tapi kenapa waktu dihadapan dia gue jadi lemah gini?
Cinta itu emang seperti ini ya?

0 komentar:

Posting Komentar